PUTRI SAMBANE DI MASA KERAJAAN KALEPE (LABIBANO)
Judul Buku Putri Sambane (LABIBANO)
PUTRI SAMBANE”
[Wadu Ntanda Rahi: Sebuah Novel]
___sambungan__
___________________
Sehabis menghadap ayahandanya, Baginda Raja Indra Nuar, Putri Bibano keluar dari istana lalu menuju keputren. Putri Sambane mengikutinya dari belakang. Ia ingin mengetahui hasil pembicaraan kakaknya itu dengan ayahanda mereka.
“Keputusan ayahanda telah bulat. Nampaknya ia lebih banyak menerima masukan dari kanda Indra Ganda,” ucap Putri Bibano.
“Indra Ganda?” lagi-lagi firasat yang tak nyaman Putri Sambane langsung terasa oleh Putri Sambane mendengar nama Indra Ganda. “Jadi yang mengusulkan itu adalah kakanda Indra Ganda? Hmm, aku merasakan kejanggalan dengan niat kanda Indra Ganda itu, kanda. Jika ia menghendaki kerajaan harus mengirim lagi angkatan perang untuk membasni bangsa Lopi Penge, lantas kenapa bukan dia sendiri yang akan memimpin penyerangan itu? Dan kenapa mesti panglima tertingginya langsung? Rasa-rasanya sangat janggal, kanda.”
“iya, pemikiranku juga begitu,” sahut Putri Bibano. “Keputusan ayahanda menerima bulat-bulat usulan kanda Indra Ganda itu bisa membahayakan kerajaan di kemudian hari. Jika penyerangan pembasmian itu berhasil tentu kejayaan bagi Kerajaan Kalepe, tetapi jika gagal tentu merupakan awal petaka bagi kelangsungan keberadaan kerajaan ini. Hampir seluruh pasukan darat akan dikerahkan untuk melanjutkan penyerangan itu, artinya sejak itu kekuatan pertahanan darat kerajaan Kalepe benar-benar dalam kondisi sangat rapuh.”
Putri Sambane mengelus-elus perutnya yang membusung. Jabang bayi dalam rahimnya bergerak-gerak, seolah-olah ikut merasakan keresahan ibu dan uwaknya, Putri Bibano.
“Sudah sering-sering gerak, ya dik?” bertanya Putri Bibano seraya mengelus-elus lembut perut adinya.
“Iya, kanda. Sejak beberapa hari terakhir ini,” jawab Putri Sambane, kemudian melanjutkannya dengan berkata, “Kakak selaku putri mahkota harus mampu memahami situasi ini. Tindakan yang diambil oleh ayahanda atas usulan kanda Indra Ganda itu bisa membahayakan kondisi kerajaan di kemudian hari.”
“Benar, dik. Kakak juga merisaukan masalah itu. Kira-kira hal apa yang harus kakak lakukan dalam waktu dekat ini?”
“Kakak harus minta titah dari ayahanda agar kakak mengambil alih pimpinan puncak angkatan perang untuk sementara selamat kanda Jara Lejo sedang melakukan penyerangan pembasmian di laut itu. Lalu kakak segera memperkuat pertahanan darat lagi dengan membuka penerimaan tamtama baru. Jika tidak, kondisi kerajaan ini benar-benar dalam kondisi rapuh.
Bersambung .......
Tunggu tulisan Selanjutnya
Komentar
Posting Komentar