Lanjutan Cerita Putri Sambane (Labibano)
“PUTRI SAMBANE”
[Wadu Ntanda Rahi: Sebuah Novel]
___sambungan__
___________________
Di luar perhitungan Indra Ganda dan komplotannya, bahwa sesungguhnya kondisi keamanan dan pertahanan kerajaan secara umum tidaklah seringkih yang diduduga. Semenjak ditinggalkan oleh Panglima Jara Lejo, Putri Bibano dengan cepat mengatur posisi pasukan kerajaan yang tersisa di tempat-tempat yang tepat. Sebagian besar pasukan yang sudah berpengalaman di tempatkan di setiap sudut ibukota kerajaan, sementara pasukan cadangan dan pasukan rekrutan baru di tempatkan di daerah-daerah yang rawan ditembus musuh maupun pemberontakan. Masing-masing wilayah itu dipimpin oleh seorang prajurit yang sudah berpengalaman dan memiliki ilmu kesaktian yang tak rendah. Sementara di sekitar istana Putri Bibano sengaja menumpuk para anggota pasukan pilihan, di samping dibantu oleh para jawara-jawara beraliran yang namanya sudah tak aisng lagi di rimba persilatan. Para jawara-jawara itu melakukan pengabdian secara sukarela, selama mantan sahabat mereka Jawara Rupawan Dari Selatan atau Panglima Jara Lejo belum kembali dari tugasnya.
Maka, ketika suatu malah menjelang kokok ayam kedua pasukan pemberontak di bawah pimpinan orang-orang kepercayaan Indra Ganda merangsek masuk hingga berhasil masuk ke dalam kota raja, mereka mendapat perlawan yang sengit dari pasukan yang ditempatkan di ibukota. Pertempuran menjelang fajar itu pun terjadi sangat seru. Para pasukan pemberontak yang memang merupakan pasukan yang sudah sangat berpengalaman di medan tempur, mereka benar-benar memperlihatkan keunggulannya. Sekalipun jumlah mereka tak berimbang dengan pasukan kerajaan, namun mereka berhasil merobohkan pasukan-pasukan lawan dengan sangat cepat, walau di pihak mereka pun tak sedikit yang menemui ajalnya. Sekalipun mendapat perlawanan yang berat dan berlapis-lapis, sedikit demi sedikit pasukan pemberontah berhasil mendekati benteng istana. Korban di kedua belah pihak terus berjatuhan.
Tentang adanya pasukan pemberontak yang menyerang kota raja dan akan menuju kalangan istana, salah seorang pasukan kawal istana langsung menuju istana dan melaporkannya kepada Putri Mahkota, Putri Bibano, yang kebetulan saat itu menghadangnya di depan pintu utama istana. Mendapat laporan itu Putri Bibano segera menuju kamar peraduan Baginda Raja Indra Nuar dan permaisuri. Karena waktunya yang demikian genting, Putri Mahkota meminta kepada kedua orang tuanya untuk segera menuju ruangan persembunyian rahasia. Kepada adiknya, Putri Bibano, pun diminta untuk melakukan hal yang sama. Ruang persembunyian rahasia itu terletak di ruang bawah istana tersebut. Setelah itu, Putri Bibano segera mengganti pakaian keputriannya dengan pakaian perang. Dengan berbekal sebilah pedang dan keris pusaka kerajaan yang bernama La Ronti Gete dan La Runta Rante ia keluar dari istana. Dengan para pasukan kawal istana yang berupakan pasukan pilihan dan puluhan jawaran pilih tanding, ia menghadang di luar benteng istana. Ia tidak akan membiarkan kesucian dan keagungan istana diinjak oleh kaki-kaki kotor para pembangkang. Hal yang ditunggu pun tiba. Gelombang serbuan dari pasukan pemberontak pun berhasil merangsek hingga ke depan benteng istana, lalu berhadapan langsung dengan pasukan kawal istana di bawah kendali Putri Bibano. Pertempuran pun terjadi. Taka da ketakutan sedikit pun di wajah jelita Putriu Bibano. Ia bertempur dengan gagah berani. Ia benar-benar berubah menjadi sesosok peri pencabut nyawa. Pedang di tangan kanan dan keris di tangan kiri berkiblat ke berbagai arah, menyambut setiap serangan senjata-senjata musuh. Tebasan dan sambaran kedua senjata sakti di tangannya itu tanpa ampun membuat tubuh anggota pasukan pemberontak jatuh terkapas satu persatu meregang nyawa. Hal yang sama berhasil dilakukan oleh para jawara dan pasukan kawal istana. Mereka bertempur dengan sangat gagah berani dengan gerakan-gerakan yang demikian lihay dan cepat.
langsung memberi tabik hormat kepada Putri Bibano.
“Maaf, adinda. Kakanda rupanya sedikit terlambat, sehingga tidak sempat untuk ikut bertarung dengan para pengacau itu,” ucap Indra Ganda, bersandiwara.
* * *
[Bersambung…]
Tunggu cerita selanjutnya sobat.
Jangan lupa Like,coment,shate dan follow yaah
Klo bisa jangan copy paste karya orang. Kasian orang nulis buku itu buat dikomersilkan bukan buat dibagi-bagi gratis seperti ini. Kasian nanti bukunya bisa nggak laku-laku. Krn hal ini juga termasuk kategori melanggar hak cipta. #saran
BalasHapusIiyah terima kasih banyak.
HapusSebelum dibrulis kemarin saya sudah komunikasi sama beliau. Dan beliau itu memberikan ijin sehingga saya berani posting disini