La Bibano Putri Kalepe
LA BIBANO
Putri Kalepe
Pada zaman dahulu, di sebelah selatan kecamatan Monta, hiduplah sebuah kerajaan kecil yang bernama Kalepe. Kerajaan ini membentang ratusan kilometer persegi, meliputi wilayah pantai Wane, Woro, Marada di bagian barat dan Rontu di bagian timur.
Kerajaan Kalepe dipimpin oleh seorang raja yang bernama Basalasa. Dalam menjalankan pemerintahan, Raja Basalasa dibantu oleh dua adiknya, yaitu adik laki-lakinya yang bernama Pangeran Duasana dan adik perempuannya yang cantik jelita bernama Putri La Bibano.
Putri La Bibano adalah bintangnya kerajaan Kalepe. Di usianya yang menginjak dua puluh dua tahun, Putri La Bibano sudah mencapai kesempurnaan. Putri La Bibano memiliki tinggi badan semampai. Wajahnya oval diselimuti oleh kulit yang halus dan putih bersih, bagaikan pisang terkupas. Rambutnya yang hitam legam dan berombak-ombak memecah sampai ke tumit. Tutur katanya sopan dan ramah. Senyum selalu menghias bibirnya yang merah delima. Tak seorang pun putri punggawa dan pemuka kerajaan kalepe yang mampu menandingi kecantikannya.
Bagaikan gula yang mengundang semut. Rupanya kecantikan Putri La Bibano mengundang ketertarikan seorang raja muda dari kerajaan Mbojo untuk datang melamarnya. Pertunangan itu pun sambut baik oleh kakaknya Raja Basalasa. Namun, adat yang berlaku waktu itu, pria dan wanita yang bertunangan tidak diperkenankan untuk saling bertemu. Sekalipun Putri La Bibano belum melihat sendiri wajah dan ketampanan tunangannya, tetapi keputusan kedua kakaknya diterimanya dengan senang hati.
Sayang seribu sayang, paras tidak sepadan, bagai bunga dengan belukar sehingga Putri La Bibano merasa kecewa setelah ia mengintip wajah tunangannya. Cambang dan kumisnya hampir menutupi seluruh wajah tunangannya itu. Walaupun La Bibano sudah timbang dan renungkan akan tetapi hatinya meronta menolaknya. La Bibano pun memohon kepada kedua kakaknya agar tali pertunangan tersebut segera diputuskan.
Bagai disambar petir saat Raja Basalasa dan Pangeran Duasana mendengar permohonan adik perempuannya tersebut. Sungguh berat persoalan yang mereka hadapi. Memutuskan pertunangan berarti malapetaka yang akan timbul. Jika pertunangan adik mereka diputuskan maka kerajaan Kalepe akan menjadi ajang pembalasan dendam kerajaan Mbojo. Oleh karena rasa kasih sayang yang sangat besar terhadap adiknya, sehingga siasat pun digunakan.
Gempar seluruh kerajaan Kalepe. Rakyat bertangis-tangisan di sekitar istana. Di serambi istana para pemuka kerajaan dan para bangsawan duduk terpekur menahan kesedihan. Kerajaan Kalepe bagaikan tergenang lautan air mata dan terbelenggu dalam kesedihan yang tak terperikan.
Kerajaan Kalepe ditimpa musibah. La Bibano, sanjungan , kesayangan, dan bintang seluruh rakyat Kalepe tiba-tiba meninggal dunia. Tak seorang pun yang mengetahui penyebab kematian yang secara tiba-tiba itu, kecuali kakaknya Raja Basalasa, Pangeran Duasana serta permaisuri-permaisuri mereka. Tapi, rupaya musibah yang tiba-tiba menimpa kerajaan Kalepe tersebut adalah siasat belaka. Putri La Bibano berlari, bersembunyi, ke dalam lorong-lorong gua.
Rupa yang cantik tak selamanya mengundang kebahagiaan. Raja Mbojo, Ruma Ma Taho Ade sangat murka mendengar laporan dari mata-matanya. Ia bersumpah untuk mendapatkan kembali Putri La Bibano dalam keadaan hidup atau mati.
Karena merasa situasi sudah sangat gawat, Putri La Bibano memohon kepada kedua kakaknya agar diperkenankan menyingkir dari kerajaan Kalepe daripada jatuh ke dalam jebakan prajurit Mbojo yang ingin menjebaknya. Sehingga pada suatu hari Raja Basala mengundang seluruh rakyatnya dan prajurit Mbojo untuk menyaksikan suatu upacara adat pelepasan adik kesayangannya Putri La Bibano.
Upacara adat tersebut dimeriahkan oleh tari ‘toja’ dan ‘maka’. Pada puncak acara, keluarlah Putri La Bibano dengan menunggang kudanya La Sambura Keto. Rakyat Kalepe merasa heran sebab putri kesayangannya yang telah meninggal dunia itu tiba-tiba berada di hadapannya. Mereka bertepuk dan bersorak kegirangan.
Tepat di hadapan seluruh undangan, Putri La Bibano menghentikan kudanya, lalu bersuara lantang.
“Tuan-tuan prajurit Mbojo, tolong sampaikan salamku pada yang mulia Ruma Ma Taho Ade. Yang Maha Kuasa tidak memperkenankan aku untuk menjadi permaisuri yang mulia.”
“Kakanda Basalasa dan Duasana, selamat tinggal, semoga Kalepe jaya sepanjang masa. Maafkan kesalahan adik.”
Dengan tidak menghiraukan hiruk pikuk rakyat yang merindukannya, ia memalingkan kudanya menghadap ke laut lepas. Kemudian ia menyentakkan tali kekang kudanya dan seketika kuda yang tangkas itu melesat meninggalkan pantai. Guntur menyambar-nyambar, mengiringi kepergian La Bibano dan kudanya. Awan hitam seketika menyelimuti langit laut selatan, seakan menyambut dan menyembunyikan putri kesatria itu dalam pelukannya.
[sinopsis oleh Har]
Sebuah Hikayat tentang Resistensi dalam Sejarah Dana Mbojo
Ditulis oleh Abdurrahman Ibrahim
Diriwayatkan oleh: A. Majid Samad, Uba Tua Nggambi, dan Usman A.R
#Sanggar_Seni_LaBibano
#Pesona_La_Bibano
#Pesona_Dana_Mbojo
#Pesona_Indonesia

Komentar
Posting Komentar