La Kalai Si Bocah Ajaib Bersmaa Kapal Raja yang Terdampar
Penulis : Emde Mallow
LA KALA'I
[si Bocah Ajaib]
Sebagian siap dipotong dan sebagian lainnya siap 'dipulangkan' ke Bima.
-----------------------------------------
Baginda Raja tidak saja sekedar melambaikan tangan kepada seluruh rakyatnya yang menyambutnya, namun juga menyalami mereka, terutama yang berdiri di bagian depan. Dan ketika sampai pada tempat di mana posisi La Kala’i berdiri dan menyalaminya, Baginda Raja berhenti melangkah. Tangan beliau tak lepas mengenggam erat jemari tangan kanan mungil La Kala’i, memandangi wajahnya lekat-lekat, bersamaan dengan bertautnya kedua alis beliau, seolah-olah sedang mengingat-ingat sesuatu, lalu bertanya, “Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya, nak?”
La Kala’i cepat mengangguk santun. “Benar, Paduka. Hamba La Kala’i, yang pernah Paduka jumpa sebulan yang lalu di kebun pi…”
“Iya, ya, ya…” Baginda Raja memotong ucapan La Kalai. “Aku ingat sekarang. Kamu memang La Kala’i…!” Tiba-tiba beliau tertawa terbahak-bahak cukup panjang sembari mengelus-elus kepala La Kala’i dengan gemas. "Tahukah kau, Kala’i? Akibat suara tangisanmu yang membahana saat itu, semua binatang buruan jadi lari menjauh, sehingga kami kesulitan mencari jejak mereka. Hahahaha.”
La Kala'i benar-benar merasa tersanjung karena diakrabi oleh Baginda Raja di depan khalayak. Namun merasa malu dan sedikit jengkel juga karena riwayat kecengengannya dibongkar di depan umum. Namun ia tetap mencoba tersenyum malu-malu, lalu dengan santun ia berkata, "Ampun hamba, Paduka. Gara-gara suara tangisan hamba, membuat binatang buruan pada kabur, sehingga Paduka pulang dengan tangan hampa.”
"Oh, tidak mengapa, Kala'i, " sahut Baginda Raja, sembari kembali mengacak-acak rambut La Kala’i. “Lantas bagaimana dengan keadaan Ina-mu, heh?”
"Beliau masih hidup, Paduka. Beliau sehat-sehat saja.”
Baginda Raja kembali tertawa mendengar penuturan La Kala’i tersebut, sebelum berkata, “Ya, syukurlah, Kala'i. Semoga Ina-mu senantiasa dianugerahi kesehatan dan panjang umur.”
“Semoga, Paduka,” jawab La Kala’i sembari mengangguk pelan.
Mungkin karena merasa bersalah, Baginda Raja kemudian menawarkan kepada La Kala’i untuk ikut berlayar bersamanya. Pada mulanya La Kala’i sebenarnya merasa tertarik dan tersanjung oleh ajakan Baginda Raja tersebut, tentu saja. Akan tetapi karena ia sudah berniat untuk membalas keusilan Baginda Raja, maka ia pun menolak ajakan itu, dan dengan kalimat yang santun ia pun berkata, “ Ampun hamba, Paduka. Hamba sebenarnya pasti sangat senang diajak Paduka untuk ikut dalam pelayaran ini. Namun entah mengapa, tiba-tiba hamba mendapat firasat tidak baik menyangkut pelataran yang Paduka lakukan saat ini. Mungkin…” La Kala'i tidak melanjutkan ucapannya. Wajahnya tiba-tiba murung, atau lebih tepatnya pura-pura dimurungkan. Inilah saatnya aku harus membalas dendam!
"Begitukah, Kala’i? bertanya Baginda Raja. Tampaknya beliau agar terpengaruh oleh kata-kata La Kala’i. "Naga-naganya firasatmu itu telah membuat hatimu gundah?"
La Kala’i menatap wajah Baginda Raja sesaat sembari mengangguk dan menjawab, "Benar, Paduka. Mungkin…sebaiknya Paduka tidak melanjutkan pelayaran ini. Haluan kapal Paduka diarahkan saja kembali ke timur.”
"Hm, begitukah? Apakah isi firasatmu itu, Kala’i?”
La Kala'i mengangkat wajah murungnya, kembali memandangi wajah Baginda Raja sesaat, menunduk, lalu dengan nada pelan dan ragu ia berkata, "Tapi sebelumnya hamba mohon ampun, Paduka, jika apa yang akan hamba sampaikan ini nantinya bisa membuat perasaan Paduka menjadi gundah…”
"Ya, ya…,” Baginda Raja manggut-manggut. “Katakanlah, Kala'i. Aku siap untuk mendengarkannya."
La Kala'i menghela nafas panjang, mendehem secukupnya, lalu berkata, "Begini, Paduka. Hari ini sangat tidak baik untuk melakukan pelayaran. Terlebih di hari di mana malamnya adalah puncaknya purnamasidi, seperti nanti malam…”
“Oh, begitu? Itu menurut siapa, Kala’i?”
“Menurut hamba dan firasat hamba, Paduka.”
“Hmm, begitukah? Lantas jika kami melanjutkan pelayaran ini, apakah gerangan yang akan terjadi, Kala’i, menurut firasatmu?”
La Kala’i kembali mendehem pelan, lalu berujar, “Begini, Paduka. Menurut firasat hamba, jika kapal Paduka berlayar agak ke dalam, maka kapal Paduka akan tenggelam diseret arus. Jika pun berlayar menyusur, niscaya kapal Paduka itu akan pecah berpuing-puing!”
Baginda Sangaji tampak manggut-manggut dengan wajah serius, seakan-akan meresapi kata-kata La Kala'i. Namun dalam hati beliau berkata, “Hm, rupanya kauingin membalas kelakaranku dulu itu, bocah!" Namun, beliau berpura-pura tidak menyadari apa yang dipikirkan oleh si bocah belia di hadapannya, dan berucap, “Begitu, ya…?” Lalu, dengan takabur yang disamarkan, beliau lanjut bersabda, “Tapi jangan khawatir, Kala’i. Pelayaran kami akan baik-baik saja. Lihatlah para kelasi kapalku, mereka adalah pelaut-pelaut tangguh dan ulung. Mereka para kelasi kelas satu yang sangat terlatih dan berpengalaman.”
"Mudah-mudahan demikian, Paduka, “ ucap La Kala’i. “Maafkan hamba. Hamba hanya menyampaikan firasat hamba. Jika Paduka hendak melanjutkan pelayaran, mungkin firasat hamba ini bisa dijadikan sebagai peringatan agar Paduka lebih berhati-hati, teliti membaca medan.”
"Tentu, Kala’i, tentu," balas Baginda Raja. "Aku berterima kasih atas peringatanmu.” Beliau tersenyum sembari mengacak-ngacak lembut rambutnya La Kala’i.
Arakian, beberapa saat kemudian, Baginda Raja pun berpamitan pada seluruh rakyatnya yang ada di pantai tersebut untuk melanjutkan pelayaran. Layar pun dikembanhgkan kembali. Kepada seluruh rakyatnya yang berdiri berjejer di pinggir pantai, Baginda Raja melambai-lambaikan tangannya, dan dibalas oleh seluruh rakyatnya itu dengan rona wajah mereka yang memancarkan kebahagiaan. Kemudian, pelan-pelan kapal megah itu pun mulai meninggalkan pantai. La Kala’i pun ikut melambaikan tangan. Tapi ada perasaan was-was dan gundah yang merasuk ke dalam hatinya, ketika melihat kapal megah itu berlayar dengan menyusur, dan tidak mengambil agak ke tengah laut. Perasaan waswas La Kala’i sebenarnya sangat beralasan. Dia sudah sangat hafal dengan medan laut di sekitar itu. Namun demikian, ia hanya berharap, agar pelayaran Baginda Raja berjalan aman-aman saja, tidak menemui kendala apa-apa.
Akan tetapi, baru saja La Kala’i dan orang-orang desa hendak meninggalkan pantai, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sebuah suara dentuman yg cukup dahyat dari arah barat. Maka seperti dikomando, langkah mereka terhenti, sembari menoleh ke arah datangnya suara dentuman, lalu semuanya berlarian kembali ke tepian pantai. Setelah mereka tahu hal apa yang terjadi, maka semuanya bersamaan berseru kaget, "Lihat, kapal Baginda Raja pecaaah..!! Kapal Baginda Raja manabrak karaaang..!!"
----------------------------
Komentar
Posting Komentar