Bagian Ke Empat Cerita Putri Labibano (Putri Kalepe)

Penulis : Emde Mallow 
Judul Buku : Putri Sambane BAGIAN EMPAT
_____________________________
Ai lopi e penge, ai lopi e penge
Ma loja nggengge motie, loja di wira
Ai loja di wure, balumba wunta wure
Ai lopi e penge, ai lopi e penge
Ma loja nggengge motie 
Loja la ‘da
Ai loja…balumba ‘dese ‘dei
Ai loja di wira, ai loja di wire
Balumba wire…4)

[Wahai kapal lanun, wahai kapal lanun
Yang berlayar menyusuri tepian samudera, layar dibentang
Wahai layar dibentang, gelombang bak kembang kara
Wahai kapal lanun, wahai kapal lanun
Yang berlayar menyusuri tepian samudera
Berlayar menuju utara
Wahai berlayar, gelombang tinggi rendah
Wahai layar dibentangkan, wahai layar dikibarkan
Gelombang menghadang…]
___________________________

Di hari di mana upacara pemberangkatan seluruh pasukan angkatan perang pelabuhan laut kerajaan di sekitar Sumpu Wadu (semenanjung) di sekitar ibukota kerajaan, seluruh sanak kadang atau pun anak istri dari anggota pasukan mengantarkan dengan penuh rasa berat anak, ayah, dan suami mereka masing-masing. Tangisan dan air tama terdengar riuh kala itu. Tak ketinggalan juga Putri Sambane, istri dari Panglima Jara Lejo. Putri Sambane yang kala itu tengah hamil tua memeluk tubuh suaminya dengan erat seolah-olah tak ikhlas melepaskan kepergian sang suami tercinta. Air matanya tumpah tak tertahankan. 

“Kamu harus ikhlas untuk melepaskanku, istriku. Pertempuran ini bisa jadi menentukan masa depan negeri kita. Semua tugas itu masing-masing memiliki tanggung jawab dan akibatnya. Kamu do’akan saja aku, agar pertempuran ini akan berhasil dengan gemilang dan aku akan pulang untukmu dan anak kita. Ya seperti aku akan kembali buatmu dari hukuman maut yang ayahanda baginda jatuhkan kepadaku dulu. Kita hanya bisa berusaha, tapi urusan takdir serahkan semuanya kepada Sang Hyang Kuasa.”

Saat itu Putri Bibano hadir. Kepada adik iparnya, Panglima Jara Lejo, sang putri mahkota berkata, “Berangkatlah. Aku sangat percaya bahwa adinda adalah seorang panglima perang yang hebat, seorang penakluk sejati. Berangkatlah, dan segera bawa pulang kemenangan gemilang buat negeri kita. Jangan bimbang. Istri dan calon anakmu di bawah pengasuhan penuh aku. Berangkatlah, wahai Sang Pahlawan!” 

Itu adalah permintaan dan perintah. Maka sambil menabik hormat Panglima Jara Lejo berkata, “Baiklah, kakanda. Do’a restu senantiasa adinda harapkan dari kakanda. Adinda titip istri dan calon anak kami.”

“Itu pasti, adinda.”

Putri Sambane melepaskan pelukannya pada tubuh suaminya, lalu beralih memeluk tubuh kakaknya, Putri Sambane. Saat Panglima Jara Lejo menuju tangga kapal perangnya, ia tak henti-hentinya menoleh ke arah istrinya, Putri Sambane, dan Putri Bibano sembari melambaikan tangan. Putri Sambane dan Putri Bibano membalas lambaian itu. Bahkan lambaian yang dilakukan oleh Putri sambane itu baru berhenti ketika bayang-bayang gugusan kapal perang telah hilang dan tenggelam dari pandangan mata. Ketika semua keluarga pengantar sudah pergi dari pelabuhan, Putri Sambane masih berdiri memandang ke hamparan samudera yang luas. Andaikata kakaknya, Putri Bibano, tidak membujuk dan mengajaknya untuk kembali ke istana, mungkin ia akan tetap di tempatnya berdiri. 

Pada saat yang sama, di sebuah tempat yang tinggi di punggung sebuah bukit, Indra Ganda terbahak-bahak saat menyaksikan gugusan armada laut kerajaan telah mengaruhi samudera, untuk menemui musuh mereka, gerombolan lopi penge, bangsa lalun. Ia sangat bahagia dan puas, karena tak akan lama lagi segenap rakyat Kerajaan kalepe akan mendapat kabar, bahwa angkatan laut kerajaan di bawah pimpinan Panglina jara Lejo telah dihancurkan oleh bangsa Lopi Penge.
“Ha ha ha ha ha ha…saat ini kerajaan sedang rapuh. Saatnya aku mulai menyusun rencana untuk menghancurkan kerajaan ini di daratan. Aku bersumpah untuk membalaskan sakit hatiku kepada Baginda Raja Indra Nuar! Akan kurebut tahta kejaraannya dengan cara paksa! Hua ha ha ha ha..” berkata Indra Ganda dengan suaranya yang membahana. Langit yang sedang mendung seolah menyambut ucapannya itu dengan suara Guntur yang sahut-menyahut.

Bersambung 
Jangan Lupa like,follow,share dan Coment tema2 
Tunggu cerita selanjutnya.....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FESTIVAL LABIBANO WANE BERJALAN SUKSES, AMAN, LANCAR DAN MERIAH

Turnamen Danramil Monta Cup II Se-Pulau Sumbawa Resmi Dibuka di Desa Tolouwi

Lanjutan Cerita Putri Sambane (Labibano)