Ncuhi Bangga Pupaa Bersama Sang Ratu (Cerita Kerajaan Kalepe)

 
   *   *   * 
Semenjak sepeninggal Panglima Jara Lejo berangkat memimpin pertempuran pembasmian bangsa lopi penge, Putri Bibano selaku pemangku tugas panglima angkatan perang kerajaan kalepe, segera melakukan pembenahan-pembenahan di pertahanan negerinya dengan memberdayakan sisa pasukan angkatan perang yang tersisa. Sebagian besar pasukan dan bhayangkara kerajaan ditempatkan di sekitar pusat kekuasaan, ibukota kerajaan, sembari membukan kesempatan bagi pemuda-pemuda Kalepe untuk mengabdikan diri sebagai tamtama kerajaan. Tak butuh waktu lama, pemuda yang melamar untuk menjadi tamtama kerajaan mebanjiri ibukota kerajaan dengan jumlah yang sangat banyak. Karena memang Putri Bibano selaku pemangku panglima tertinggi angkatan perang membutuhkan pasukan pengganti yang tak sedikit, maka hampir semua pemuda yang melamar diterima menjadi anggota tamtama baru. Walaupun tak sepenuhnya tak bisa mengganti pasukan yang dibawa serta oleh Panglima Jara Lejo ke pertempuran pembasmian di samudera, namun tamtama rekrutan baru itu cukuplah untuk menjadi benteng bagi pertahanan Kerajaan Kalepe.

Sementara itu, sampai beberapa minggu kabar dari samudera belum juga ada. Dapat dipastikan, tentu saja pertempuran besar antara angkatan perang laut Kalepe dengan bangsa Lopi Penge sedang berkecamuk. Dan itu bukan sebuah pertempuran yang mudah, mengingat kekuatan antara kedua belah pihak bisa dikatakan seimbang. Di dalam kamar istananya Putri Sambane tiada henti-hentinya berdoa demi keselamatan sang suami tercintanya. Resah dan gelisah berkecamuk dalam hati dan pikirannya, membuat makan tak enak dan tidur tak nyenyak. Keadaan itu menjadikan kondisinya lemah dan kurang bersemangat. Sampai ketika suatu malam, setelah satu setengah purnama sang suami pergi, ia melahirkan. Putri Sambane berjuang sekuat tenaga untuk melahirkan anaknya pertama. Berhasil, namun sesaat kemudian ia tak sadarkan diri. Sampai berapa lama ia tak sadarkan diri ia pun tak tahu jika tidak diberitahu oleh ibundanya,  Ratu Kemala, bahwa ia tak sadar hampir tujuh hari tujuh malam. Ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang elok rupanya yang terlihat lelap di sampingnya. Putri Sambane mencium buah hatinya dengan penuh kasih sayang dan rasa haru yang teramat dalam. Air matanya pun tak mampu ia tahan, berderai membasahi kedua pipinya, lalu jatuh tetes demi tetes membasahi bantalnya. Ia melahirkan anak pertama tanpa ditemani oleh suami yang tercinta. Namun ia sangat bangga karena ia sudah berhasil mempersembahkan seorang buah hati buat suami tercintanya walau dengan bertaruh segenap kehidupannya. Jika dihitung, maka kepergian sang suaminya hampir mendekati dua purnama. “Duh, Sang Hyang Kuasa, lindungilah suami hamba,” jeritnya hatinya.

Pada waktu yang sama, di sebuah rumah panggung yang cukup besar di desa kecil yang cukup jauh dari kota raja, Indra Ganda sedang terlibat pembicaraan serius dengan enam  laki-laki yang rata seusia dengannya. Dari cara mereka berbicara dan wajah mereka yang seolah-olah waspada dengan keadaan sekeliling, mereka sedang membahas sebuah rencana yang besar. Sampai akhirnya Indra Ganda berkata, “Lebih cepat kita bertindak akan lebih baik hasilnya. Kesempatan kita panjang, karena bisa jadi Panglima Jara Lejo akan segera kembali. Nah, saat kondisi pertahanan kerajaan sedang lemah seperti saat ini kita harus mampu memanfaatkannya sebaik mungkin. Jika kita berhasil dengan rencana besar kita ini dan aku berhasil berhasil merebut tahta kekuasaan dari Raja Indra Nuar, maka kalian akan saya angkat menjabat para menteri aku. Huahahaha…!”

“Kami sangat berterimakasih atas kepercayaan Tuanku Yang mulia kepada kami. Pasukan kami maisng-masing sudah siaga dan siap untuk digerakkan!” berkata salah seorang dari enam laki-laki yang diajak rembugan oleh Indra Ganda mewakili yang lainnya. Ia bernama Jara Gunta, yang merupakan kepala pasukan di wilayah barat. Ia berhasil diajak untuk membangkang kepada Raja Indra Nuar oleh Indra Ganda. 

“Bagus! Kita tinggal menunggu hari baik baik bagi kita dan hari nahas bagi Raja Indra Nuar untuk memulai tindakan,” kata Indra Ganda.

“Benar, Tuanku Yang Mulia. Keberhasilan tindakan kita adalah tergantung juga pada ketepatan kita dalam menghitung segala kemungkinan. Kita juga perlu memikirkan bagaimana cara kita tidak berhadapan langsung dengan pasukan baru yang dibentuk oleh Putri Mahkota, Putri Bibano. Ia dibantu oleh Panglima Sandaka Moti. Namun dari seorang bintara sandi yang saya kirim, Panglima Sandaka Moti sedang mengalamim sakit keras sepulang dari penyerangan samudera itu,” nimbrung salah seorang lagi. Dia bernama Rangga Bumi, yang meruapakan kepala telik sandi kerajaan. Empat orang lain adalah juga pejabat tinggi kerajaan yang berhasil diajak oleh Indra Ganda untuk bersekongkol dalam rangka untuk memberontak kepada baginda Raja indra Nuar.

Penulis : Emde Mallow 
Judul Buku : Putri Sambane 
  *     *   *
[Bersambung…]
Ayooo teman2 jangan Lupa Like,share,comen dan follow yaah untuk membaca cerita selanjutnya 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FESTIVAL LABIBANO WANE BERJALAN SUKSES, AMAN, LANCAR DAN MERIAH

Turnamen Danramil Monta Cup II Se-Pulau Sumbawa Resmi Dibuka di Desa Tolouwi

Lanjutan Cerita Putri Sambane (Labibano)